Musyawarah Damai Nelayan Yang Ditangkap Menggunakan Komproser

SINABANG | simtimceria.id – Plt. Camat Simeulue Timur Ali Muhayatsah, SH hadiri Musyawarah Damai bersama para Nelayan Simeulue, Sabtu (2/3) di Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue.

Musyawarah Damai ini dilakukan terkait laporan dari para Nelayan dan Panglima Laot atas penangkapan Nelayan yang tertangkap menggunakan alat Komproser di Laut dalam mencari Ikan. Para Nelayan ini beranggotakn 7 orang dan 1 diantaranya adalah anak di bawah umur, yang berasal dari wilayah Simeulue Timur dan Teupah Selatan.

Penagkapan ini dilakukan atas laporan masyarakat (Nelayan) yang dilakukan oleh Panglima Laot beserta para Nelayan dan dibantu oleh anggota Polisi Air dan Udara (POLAIRUD), dimana para Nelayan ini ditangkap pada 22 Februari lalu sekitar pukul 10 malam yang sedang melakukan pencarian ikan dengan menggunakan alat Komproserpenagkapan pelaku menggunakan kompresor, ditangkap 22 feb 2019 malam. jam 10 malam, dan ditemukan dalam perahu satu alat Komproser beserta satu gulung sealang dengan panjang 50 meter, senter kepala, ikan dan teripang.

Isdawati selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue mengatakan bahwa sebelumnya sudah pernah tertangkap dengan kasus yang sama, dan sudah didamaikan dengan membuat surat pernyataan, dan untuk kali kedua ini tertangkap kembali dengan kasus yang sama. Kadis DKP ini sangat apresiasi terhadap sikap cepat tanggap ini kepada para Nelayan yang memberi laporan tersebut, dan sangat berharap tidak terjadi lagi kasus serupa dalam wilayah laut Simeulue, mengingat sekarang laut Simeulue mengalami ekosistem yang sangat memprihatinkan, bahkan banyak terumbu karang sekarang dalam kondisi rusak dan hancur akibat menggunakan alat tangkap ikan yang tidak sesuai prosedur dan bertentangan dengan hukum laut serta UU no 45 tahun 2009.

Plt. Camat Simeulue Timur Ali Muhayatsah, SH yang turut berhadir pada musyawarah damai ini memberikan satu solusi untuk kasus tersebut, yakni harus ada MoU antar kecamatan untuk menghadapi masalah dimaksud, dan lakukan sosialisasi terhadap para nelayan untuk tidak menggunakan alat tangkap kompresor, dan harus diberikan sanksi kepada yang melakukannya seperti menyita alat komproser tersebut, dan jika nelayan yang sudah pernah tertangkap dan tertangkap kembali dengan kasus yang sama maka akan ditindaklanjuti dan dibawa ke rana hukum agar ada efek jera kepada nelayan yang tidak bertanggung jawab.

Dalam pertemuan musyawarah damai yang dilaksanakan di ruang kerja Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue ini turut dihadiri oleh Panglima Laot Kabupaten, Panglima Laot Kecamata SImeulue Timur, para Nelayan sekitar 20 orang, Tim Penyidik serta anggota POLAIRUD. Dan setelah melakukan musyawarah ini maka diambillah keputusan bersama bahwa kasus ini untuk sementara akan ditangani oleh Panglima Laot Kabupaten dengan Hukum Adat Laut, dan jika jalur ini nantinya tidak dapat ditempuh maka akan ditindaklanjuti dengan jalur hokum. (/ism).

Posted on: March 2, 2019, by :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *