Budaya

Budaya Simeulue

Selain potensi alam, adat istiadat yang tetap dipegang teguh masyarakat Simeulue juga menjadi potensi bagi pengembangan industri pariwisata budaya di Simeulue, seperti debus, pencak silat, tari angguk, tari andalas, nandong sangat menarik dan berpotensi untuk dijadikan sebagai atraksi budaya. Selain itu juga terdapat berbagai makanan khas daerah yang um umunyaberasal dari sumber daya laut, seperti ikan karang, cumi-cumi, penyu, udang (lobster) yang merupakan budidaya unggulan masyarakat Simeulue, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk menikmatinya.

Masyarakat Simeulue mempunyai adat dan budaya tersendiri berbeda dengan saudara-saudaranya di daratan Aceh, salah satunya adalah seni Nandong, suatu seni nyanyi bertutur diiringi gendang tetabuhan dan biola yang ditampilkan semalam suntuk pada acara-acara tertentu dan istimewa. Terdapat pula seni yang sangat digemari sebagian besar masyarakat, seni Debus, yaitu suatu seni bela diri kedigjayaan kekebalan tubuh terutama dari tusukan bacokan pedang, rencong, rantai besi membara, bambu, serta benda-benda tajam lainnya, dan dari seni ini pulalah para pendekar Simeulue acap diundang ke mancanegara

Masyarakat Simeulue memiliki cerita yang sangat menarik dipelajari, khususnya pada saat bencana Tsunami menimpa Aceh. Tsunami yang pernah melanda Aceh banyak membawa hikmah bagi masyarakat Aceh umumnya dan masyarakat Simeulue khususnya. Salah satu hikmah yang terjadi adalah terkenalnnya daerah Simeulue sebagai salah satu daerah yang terkena dampak Tsunami, namun tidak menimbulkan korban jiwa yang sangat besar.

Hal yang paling utama yang menyebabkan Masyarakat Simeulue banyak yang selamat dari bencana Tsunami adalah masyarakat Simeulue masih tetap memegang teguh pada adat istiadat dan mematuhi nasehat para orang tua. Mereka masih memegang teguh nasihat para orang tua yang menganjurkan untuk memelihara hutan mangrove, berlari ke gunung atau tempat yang tinggi jika terjadi gempa besar dan fenomena surutnya air laut. Masyarakat dunia merasa kagum atas upaya masyarakat Simeulue menghindari korban jiwa yang besar sebagaimana yang terjadi pada daerah-daerah lain yang terkena Tsunami. Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, Kabupaten Simeulue berdiri tegar di tengah Samudra Hindia. Kabupaten Simeulue merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 1999, dengan harapan pembangunan semakin ditingkatkan di kawasan ini.

Karena posisi geografisnya yang terisolasi, hiruk-pikuk konflik di Aceh daratan tidak pernah berimbas di kawasan ini, bahkan tidak ada pergerakan GAM di kawasan kepulauan ini.

Kabupaten ini terkenal dengan hasil cengkehnya. Penduduk kawasan ini juga berprofil seperti orang Cina, dengan kulit kuning dan sipit dan mempunyai bahasa yang berbeda dengan Aceh daratan. Terdapat 3 bahasa utama yang dominan dalam pergaulan sehari-hari yakni bahasa Ulau, bahasa Sibigo dan bahasa Jamee. Bahasa Ulau (pulau) umumnya digunakan oleh penduduk yang berdomisili di Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teupah Barat, Simeulue Tengah dan Teluk Dalam; bahasa Sibigo umumnya digunakan penduduk di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang; sedangkan bahasa Jamee (tamu) digunakan khususnya oleh para penduduk yang berdiam disekitar kota Sinabang dan sekitarnya yang umumnya perantau niaga dari Minang dan Mandailing.

Nandong

photo : exploresimeulue.com

“Nandong”, seni tutur yang paling akrab dengan masyarakat Simeulue. Jika masyarakat Aceh daratan mengenal kesenian Rapa’ie sebagai alat edukasi, Nandong juga nyaris serupa. Yang membedakan hanyalah alat atau gendang yang digunakan, sedikit mirip beduk. Meski hanya didukung peralatan yang bisa dikatakan yang sangat seadanya, namun Nandong memiliki efek magis yang sulit dilukiskan.

Dalam lantunan Nandong, kuasa membawa pikiran pendengar melayang-layang. Ombak, pasir, hingga karang, seolah turut berbicara seiring lantunan Nandong yang sesekali lirih, dan sesekali melengking tinggi. Di beberapa bagian, nadanya seperti meratap, di bagian lain bernada garang seolah siap untuk berperang.

Dalam nada-nada Nandong, di sana tersimpan kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan alam dan laut nan sangar. Dalam lengkingnya, seolah mewakili kekuatan, bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Yang Mahakuat yang selalu siap menghadapi tantangan.

Kesenian ini tidak seperti halnya Rapa’ie di Aceh daratan yang kerap dimainkan oleh banyak penari. Nandong hanya cukup dengan dua orang dengan dua gendang yang dipukul di antara tiap lirik senandung. Dengan mata yang terkadang terpejam, pelantun Nandong seakan mengalami semacam ekstase. Di sini efek magisnya akan mengalir kepada siapa saja yang mendengarnya.

Magis dari syair-syair Nandong ini yang seolah menjadi penangkal pada saat tsunami tiba: ” Semong rume rumemu, Linon awak awakmo. Elaik keudang keudangmo, Kilek suluh suluhmo (Terj: Semong air mandimu, gempa ayunanmu, petir adalah gendangmu, halilintar adalah lampu-lampumu).”

Lazimnya kesenian Aceh lainnya, Nandong pun kerap dipertunjukkan hingga satu malam penuh pada acara-acara semisal pesta pernikahan, khitan, syukuran, dan acara-acara khusus lainnya.

Dalam kesederhanaan bentuk tampilan luar kesenian ini, tapi sama sekali tidak disederhanakan oleh masyarakat Simeulue. Mereka masih memperlihatkan animo tinggi untuk menjaga dan memelihara budaya ini. Anak-anak muda yang melemparkan kail ke laut, kerap menyenandungkan syair Nandong sambil berharap mendapatkan tangkapan yang banyak. Begitu juga dengan pemuda yang menggembala kerbau di pinggir-pinggir pantai, syair Nandong seolah mampu menundukkan hewan piaraan mereka yang bertubuh besar itu.

Ya, itu cara mereka menjaga kesenian tersebut. Tak pelak, hampir bisa dipastikan, seluruh desa yang terdapat di Simeulue menghafal seluruh lirik di dalam syair Nandong ini. Maka itu, meski gempa bumi dan tsunami 2004 justru berpusat di Simeulue, tapi jumlah korban di kabupaten ini paling sedikit dibanding kawasan Aceh lainnya seperti Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Utara, Banda Aceh, dan beberapa kabupaten/kota lainnya.

Nyaris sulit dipercaya, ketika belahan Aceh lainnya menelan korban jiwa lebih dari 200 ribu jiwa, di Simeulue hanya terdapat enam orang yang meninggal akibat tsunami pada saat itu. Kecuali dari sisi harta benda saja, setidaknya mereka mengalami kerugian berupa hancurnya sekitar 1.700 rumah.

Dari atas perbukitan itu mereka bisa dengan leluasa menyaksikan bagaimana keganasan gelombang tsunami menyapu seluruh desa, menghancurkan perumahan, sawah, dan ladang. Meski begitu, dalam perasaan campur aduk, selama seminggu setelah tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 itu, mereka harus bertahan di atas perbukitan dengan perbekalan seadanya.

Nandong seolah membawa pesan kepada dunia, betapa, menjaga budaya tidak sekadar menjaga identitas. Menjaga budaya, bahkan telah membuat nyawa mereka sendiri pun terjaga.

ANGGUK RAFA’I

Angguk Rafa’I merupakn salah satu Kesenian Tradisional Kabupaten Simeulue. Tarian ini sering ditampilkan pada acara-acara tradisonal, karena isinya syarat dengan nilai keagamaan yang mengagungkan kebesaran Allah SWT. Para penari yang menggerakkan kepala, tangan dan badan secara bergantian, kadang sambil memainkan rebana/gendang merupakn keunikan dari kesenian ini.

RAFA’I DEBUS

photo : exploresimeulue.com
Seni Tradisional Debus Simeulue-photo by : @dimas_simeulue on Instagram
Seni Tradisional Debus Simeulue-photo by : @dimas_simeulue on Instagram

Rafa’I Debus biasanya ditampilkan bersamaan dengan angguk pada acara pernikahan, penyambutan tamu atau acara resmi lainnya. Diringi tabuhan rebana pelaku debus mempertontonkan kekebalan anggota tubuh dalam menghadapi sayatan dan tusukan benda tajam seperti pisau, parang, rantai, kayu atau bamboo yang ditajamkan. Biasanya penampilan kesenian ini dipimpin oleh seorang yang dipandang ahli, di Simeulue disebut dengan Khalifah.
TARI ANDALAS
Tari andalas berasal dari daerah Barus, Sumatera Utara. Tarian ini ditampilkan pada acara resmi penyambutan tamu, acara perkawinan dan acara tradisional lainnya.

TARI SIKAMBANG ATAU BUAI

Foto: Ayat S Karokaro

Tari Sikambang atau buai merupakan salah satu tarian yang membudaya di Simeulue yang berasal dari daerah Singkil. Tarian ini sering ditampilkan pada cara perkawinan, khitanan, turun anak dan juga menerima tamu para tamu kehormatan. Tari Sikambang dimainkan oleh dua orang laki-laki dan perempuan. Dalam tarian ini, kedua pemain juga melantunkan syair-syair yang berisi do’a/permintaan kepada Tuhan yang maha pengasih yang dilantunkan dalam bentuk buain dengan harapan anak yang dimaksud, apabila dalam keadaan sakit semoga cepat sembuh dan manakala anak yang dibuai dalam kedaan sehat, maka do’a dan harapan menjadi anak yang baik, anak yang sholeh/sholeha, berguna bagi bangsa, Negara dan agama serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.