Kuliner

MEMEK.

Belum begitu banyak orang yang tahu mengenai Kabupaten Simeulue di Aceh, padahal daerah ini kaya akan budaya dan kuliner, salah satu kuliner khas pulau paling barat Indonesia itu bernama (maaf) memek.

photo : (Kanal Aceh)

Jangan langsung berpikir yang bukan-bukan, mendengar namanya mungkin kita akan langsung mengernyitkan dahi, tapi ketika mencicipinya, dijamin ketagihan.

Kuliner tradisional Simeulue ini terbuat dari beras ketan putih yang digongseng, pisang, santan dan gula. Seluruh bahan tadi dicampur dan ditumbuk menggunakan batang pisang atau bahan yang keras sampai benar-benar halus. Rasanya manis dan aroma pisangnya terasa. Mungkin sekilas terlihat seperti bubur. Yang membedakan ialah perpaduannya dengan beras ketan yang digongseng, sehingga memberi tekstur ‘kriuk’ atau renyah.

Makanan ini juga biasa dinikmati di momen-momen penting, seperti acara buka puasa bersama, Hari raya Idul Fitri dan perayaan lainnya.

Perlu diketahui pula bahwa kuliner satu ini merupakan peninggalan raja yang sudah ada sejak zaman dulu di Simeulue. Tak heran jika ia sering disajikan sebagai bentuk penghormatan bagi para tamu yang berasal dari daerah.

“Di Simeulue paling dicari itu makanan yang terbuat dari pisang, beras ketan ini, ini makanan tradisional di sini,” kata Wakil Bupati Simeulue, Afridawati.

Untuk harga, satu mangkuk memek dibanderol Rp10 ribu.

 

Diakui Afridawati, kuliner ini terbilang sulit ditemui di Simeulue, sudah jarang pedagang yang menjajakannya di warung atau toko, kecuali pengunjung memesannya terlebih dulu.

Namun, pemerintah Simeulue sudah merancang agar makanan khas daerah penghasil lobster ini bisa ditemui dan selalu ada setiap saat. “Kita upayakan agar makanan ini siap saji, agar pengunjung tidak kesulitan untuk menemukannya,” ujarnya.

Meskipun namanya agak aneh, tapi rasanya enak, manis, dan tidak eneg di mulut.

LOBSTER

Lobster adalah merupakan salah satu kekayaan laut Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh. Didaerah ini, Lobster banyak didapati, dimana Simeulue merupakan sebuah pulau di perairan Indonesia. Menuju kedaerah ini memakan waktu delapan jam dari dataran Labuha Haji, Aceh Selatan. Perjalanan yang dapat ditempuh menaiki sebuah kapal maupun pesawat.

Lobster Budidaya di Dusun Suka Damai Kec. Simeulue Timur (photo: TribunNews.com)

Menurut salah seorang penangkar dan juga pedagang lobster di Kota Sinabang,  di sebutkan lobster disini dapat ditemui berbagai jenis, ada Lobster jenis Maradona, Lobster Pasir, Lobster jenis bambu dan  Lobster jenis Batu.

Ragam jenis Lobster ini juga membuat harganya bervariasi mulaindari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Harga lobster maradona masih menjadi primadona dengan harga jual mencapai dua juta rupiah per Kg.

Lobster Maradona Lobster Termahal (photo: Habadaily.com)

Lobster Maradona, Lobster ini hidup di kedalaman 30 meter hingga 50 meter di laut. Sangat sulit dan jarang ditemukan oleh para nelayan, karena dia hidup kedalaman antar 30 meter hingga 50 meter.

Ukuran tubuh Lobster Maradona ini lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Sehingga tak salah juga, lobster ini dibandrol harga Rp 700 ribu per kilogram.

Seorang pengusaha budidaya lobster di Kota Sinabang, Mahlil, mengatakan selain tubuh besar, dagingnya banyak. Lobster jenis ini juga memiliki cita rasa yang gurih, daging halus dan lembut. Sedangkan warna sama dengan lobster lainnya bening dan putih.

Menurutnya lobster yang banyak ditemukan sekarang jenis obster Kipas dengan harga Rp 50.000 per kilogram. Jenis lain yang sering ditangkap, yaitu lobster bambu Rp 300.000 per kilogram serta lobster jenis batu dan lobster jenis pasir dibanderol Rp 250.000 per kilogram.

Lobster Kipas (photo: steemit.com)

Selain Lobster, Simeulue juga memiliki kekayaan laut lainnya seperti ikan dan kepiting, tidak hanya itu, pulau Simeulue juga memiliki hasil alam seperti Sagu, Pinang, dan Cengkeh.